SOLO EXHIBITION – BAYU WIDODO –

Memories on Print

Pameran ini berangkat dari keinginan mempresentasikan hasil residensi Bayu di Australia. Kurasi ini mengandaikan bahwa perupa hadir dalam satu kelompok sosial dan membentuk kecenderungan berkeseniannya. Residensi, satu sisi, merupakan pertemuan berbagai kecenderungan berkesenian yang muncul di lokasi berbeda untuk berjumpa. Memandang posisi Bayu dalam kelompok sosial spesifiknya di Jogja sebagai latar pembentukan diri, maka, proses residensinya dan hubungan sesudahnya, bisa dianggap persahabatan cara pandang. Kencenderungan seperti ini, bagi saya, bukanlah kategori komunitas yang tumbuh dalam satu alasan politis, namun, kultural.  Dengan dasar itulah kurasi ini berpijak.

Memories on Print, tema ini diambil dari dialog dengan Bayu Widodo terkait dengan pameran tunggalnya di Roommate. Sekilas, tema ini ingin mencakup beberapa hal, yaitu substansi gagasannya mengenai efek urbanisasi bagi orang-orang. Pengamatan itu dilakukan melalui konsumsi media massa, dan menempatkan media sebagai distributor ingatan-ingatan temporer persoalan kota. Namun, ingatan dalam hal ini tidak dikaitkan dengan pewarisan masa lalu yang umum dan kolektif. Melainkan, ingatan individual perupa mengenai persoalan urbanisasi. Mengamati merupakan bagian dari mengonsumsi ingatan. Jenis ingatan di sini bila boleh dinamai, yaitu ingatan urban. Lokasi ingatan itu di perkotaan, ruang di mana kaum urban ialah warga suatu tempat. Selain itu, print dalam hal ini merupakan medium berbagai aktualisasi ingatan perupa itu dimaterialkan, serta menimbang status dari budaya cetak sebagai bagian dari kehidupan urban itu sendiri.

Bayu melakukan residensi di Australia selama enam minggu. Program ini dia dapatkan secara mandiri. Hasil dari “mengalami” hidup di sana ia presentasikan dalam bentuk pameran di studio Megalo, 24 April 2009 dengan tajuk Me vs Robot. Penganalogian ini muncul ketika Bayu merasakan bagaimana manusia itu hidup dalam sistematika mesin. Bayu sendiri tertarik untuk mengkomunikasikan gagasan urbanisasi yang sudah menjadi praktik, dan efeknya bagi kemanusiaan orang. Bila dulu gagasan urbanisasi untuk menamai praktik orang desa mendatangi kota, sebab, kota menjanjikan kesejahteraan. Juga memperkuat legitimasi kota sebagai keramaian, dan memunculkan kategori identitas dan batasnya, misalnya “udik”, dan “kampungan”. Urbanisasi menjadi ruang dimana identitas manusia itu dibentuk, juga kadang menuntut orang untuk menjalankan peran yang berbeda dari tempat asalnya.

Home Shit Home
Pada karya Bayu, kita bisa melihat hubungan manusia dan tempat secara berbeda. Manusia yang dilihat dari kategori sosial ialah urban. Mereka inilah yang membutuhkan tempat, namun, tidak memilikinya. Hidup di dalam janji-janji kesejahteraan perkotaan, namun, tempat yang memproduksi janji itu ternyata tidak bisa tempati. Kategori yang menjadi perhatian Bayu ialah mereka yang tidak punya tempat, berpindah-pindah, atau mereka yang belum mengalami “apa itu rumah”, namun, mengharapkannya. Penanda rumah justeru menjadi makna “ruang kenyamanan” yang selalu tertunda, dan terpindah-pindah, dan hidup dalam harapan.

Gagasan urbanisasi dalam karya Bayu tidak bisa dilepaskan dari status dirinya, sebab dia sendiri ialah salah satu pelakunya. Namun, cara orang untuk meng-urban bermacam-macam. Bayu lebih masuk ke jalur sub-kultur untuk mengalami urbanisasi itu. Dan dikelompok ini berkembang cara mengurban yang spesifik, dengan mengaktualisasikan diri dengan tattoo dan membentuk survivalitasnya. Survive, merupakan kata yang selalu dia tekankan untuk memaknai kelompok sosial spesifik yang menjadi home-nya.

Sutrisno Prianggodo

Artist Statement
Garis, cerita

Garis bisa menjadi cara bertutur. Untuk menceritakan situasi bahagia, bosan, marah maupun lapar.

Karya saya sangat banyak bereksperimen dengan pensil, cat akrilik, pensil warna,pena, pastel, arang, stensil, cukil kayu, sablon.

Dalam menciptakan karya, saya senang mengeksplorasi teknik dan gagasan, dengan berbagai material seperti kanvas, kertas, kayu, dan apa saja yang membantu mempertegas
gagasan. Seni bagi saya adalah sebuah cara untuk mengekspresikan gagasan yang saya peroleh dari apa yang saya lihat, baca, dan dengar yang terjadi di sekitar saya.

Berawal dari mengamati, menganalisa dan memahami fenomena hidup dalam wujud interaksi dan toleransi dengan masyarakat, tidak jarang menimbulkan berbagai pertentangan, bahkan penolakan pada diri saya.

Fenomena hidup yang menjadi konsep karya saya fokus mengenai ide urbanisasi dan efeknya pada kemanusiaan. Di bawah premis “think global, act local”, saya ingin memperlihatkan efek tersebut berupa kebutuhan tempat tinggal.

Sejauh mungkin karya saya ingin merefleksikan efek gaya hidup di dalam lingkungan urban.

Bayu Widodo

0 Tanggapan ke “SOLO EXHIBITION – BAYU WIDODO –”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.