Pameran “ANTI TEROR”

ANTI TEROR

Catatan Pengantar Pameran

Dar Der Dor,… para teroris meneror.

Was Wis Wus,… para pesulap meneror.

Wes Ewes Ewes “DUG!”,… para spekulan meneror.

Sim Salabim “BOOM!”,… harga lukisan meneror.

Josojos Ojos “JOS!”,.. para pelaku pasar, bergerak menerobos jalur bos, seperti teror.

Josojos Ojos, Sim Salabim, Wes Ewes Ewes, Was Wis Wus, Dig Gedag Gedig DOR! Banjir informasi menggedor otak-atik otak seperti TEROR.

Maka,… Pameran Anti-Teror pun digelar. Sebagai respon reflektif atas berbagai fenomena dan peristiwa aktual di lingkungan sekitarnya, yang lalu menggedor pamor, dengan berbagai produk kreativitas apa saja, di dunia seni rupa.

Maka,… Lahirlah rupa apa saja, bentukan visual aneka warna, berbagai proses sedemikian rupa yang berRUPA-RUPA, dan lain sebagainya.

Semua itu menggedor ruang imajinasi kita. Baik selaku perupa, maupun sebagai penikmat karya apa saja, hasil olahan kreativitas manusia.

Teror Teror Teror, dan Teror lagi. Kami muak dengan Teror.

Maka,… kami pilih Anti Teror!

Lagi-lagi, Teror lagi.

Maka,… kami pilih Anti Teror lagi.

Demikian seterusnya,… Teror dan Anti Teror terus terjadi. Berproses silih berganti, menuju Sintesa Inti. Seperti pada pameran kita kali ini.

Maka,… Silahkan lihat dan nikmati! Ekspresi visual murni, penyejuk hati. Meski sekilas tampak sangar dan nggegirisi.

Tak apa,… semua proses mesti dilewati.

Dilalui dengan sepenuh hati.

Hingga tuntas dan berARTI.

Widjana Anoraga, Jogja, Oktober 2009

ARTIST:

Andi Hartana, Bagus Pramutya, Dedeo Wahyu Widayat, Ivan Yulianto, Nunung Riyanto, Sumartono, Teguh Margono, Tommy Tanggara, Yuli Kodo, Yuliyanto.

ART WORKS:

Iklan

PAMERAN KITA KITA: DANGDUTERS (10 SEP – 5 OKT 2009

KITAKITA : Dangduters

Ungkapan dengan nada main-main semerdu seruling bambu di Koran kompas yang ditulis AW  cukup membuat sakit gigi para perupa Yogya . Hanya dengan kata mbentoyonggoyang senggol antara Yogyakarta dan Bandung seolah-olah menjadi sebuah wacana penting dalam seni rupa  di akhir tahun 2008.

Seminggu kemudian  teori mbentoyongnya si kucing garong dibalas YA dengan syahdu, mencoba menepis dan menetralkan darah muda para perupa  Yogyakarta yang sempat mendidih, setelah dikocok-kocok dan tak sadar jika telah masuk  dalam provokasi  adu domba.

Fenomena mbentoyong ternyata hanyalah sebuah tanda, bahwa Pesta Panen (“booming” 2007-2008) di ladang  seniman yang cukup banyak melahirkan bintang pentas baru, yang setiap saat selalu muncul di panggung goyang dombret seni rupa Indonesia .

Para perupa yang  sedang hujan duit saat ini tidaklah membuat tenang dan santai, saat sedang dalam dilema menghadapi komentar dan kritik, bahwa seniman muda saat ini sedang mengalami  euphoria,  euphoria kebebasan dalam meluapkan perasaan bebas dan senang yang seolah mendadak dangdut. Benarkah demikian?

Dalam perspektif sejarah  suasana di atas bukanlah fenomena baru, melainkan situasi seperti itu selalu berulang dikala dunia seni rupa dalam suasana pesta panen. Koran PEMANDANGAN terbitan tanggal 26 oktober 1943, sempat memuat tulisan S.Soedjojono yang berjudul “Bahaja Seniman Moeda”. Baris-baris yang normatif dan idealis, berisi soal seruan agar pelukis muda tetap kuat dan tahan uji, dengan vitalitas dan potensi yang disandang untuk merengkuh dunia lewat pameran–pameran yang digelarnya.

Dalam vitalitasnya seniman muda dikatakan belum bisa membedakan kesenian yang hanya dibuat dengan keterampilan tangan saja dengan kesenian yang dalam. Hambatan ini disebabkan  oleh rasa seninya diruwetkan (vendozeld) oleh mani cinta dunia.

Tetapi yang menjadi pertanyaan apakah pernyataan S,Soedjojono itu masih relevan dengan perkembangan seni rupa saat ini?

Tidaklah selalu benar jika dalam pikiran seorang perupa muda yang sedang laris manis semanis madu dalam berkelana menelusuri petualangan imajinasinya hanyalah duit–duit saja. Rasanya kurang bijak bila kita mencibir dan mengkritik  para perupa muda yang sedang hujan duit dan menikmati gula-gula adalah seniman gorengan, barangkali itu adalah hasil perjuangan dan doa- nya.

Di era zaman yang penuh dengan gejolak, bagaimana mungkin seorang perupa hanya cukup berdiam diri dalam gubuk derita sambil begadang dan menunggu keberuntungan akan datangnya lirikan mata !.  Persoalan yang harus dicermati adalah bagaimana karya- karya kita menjadi bagian dari ekspresi senyum untuk semua orang. Dengan demikian karya itu mempunyai daya gugah, sehingga mampu memaknai sosialnya atau kehidupan, walaupun harus jatuh bangun.

Oleh karenanya ke enam seniman ini mencoba untuk mengekspresikan karya-karyanya sebagia wujud dari perjuangan dan doa mereka dalam sebuah pameran yang bertajuk “Dangduters”.

Kenapa Dangduters?

Mendengar dangduters, seolah kita akan dikocok-kocok diajak mengembara pada liukan tangan, hentakan kaki, gemulainya tubuh yang diiringi alunan nada syahdu. Namun yang terjadi pada ke-enam seniman ini, merupakan tarap permulaan proses berkreasinya. Mereka selalu berfikir bahwa berkarya itu seperti bergoyang dangdut; nikmat, nyaman, tangan diacungkan sambil kepala mengeleng ke kanan kiri dan terkadang mata harus merem melek. Ini yang kemudian kerya seni akan terlihat ikhlas mengalun berirama.

Terlepas dari persinggungan AW, ataukah berada di luar gubuk derita AW, yang sebenarnya tidak bersarang, menelurkan, memproses dan melatih atau menempa perupa-perupa baru ke arah yang lebih inovatif. Namun seniman sebagai pelakunya sendiri harus selalu inovatif dengan gayanya yang kece.

Yerry Padang

Jogja, September 2009

KARYA KARYA

Pameran 17+, Understanding Heroes – KELOMPOK LAMPU KUNING

Suspensi

Pada pertengahan tahun 80-an terjadi booming menonton video superhero. Kedatangan superhero ini didukung oleh berbagai rental video betamax yang telah tumbuh dan menjamur di berbagai ruas jalan utama kota di Indonesia. Rental video menjadi lembaga berpengaruh dan sukses dalam mempertemukan anak muda Indonesia dengan para superhero asing. Sedemikian akrabnya anak muda dengan para superhero impor itu, sehingga anak negeri ini pun bermimpi dan mengidolakan para superhero mancanegara. Segenap gaya dan tingkah superheropun ditiru. Halaman rumah dan sekolah pun menjadi medan laga bagi para fans superhero.

Sejumlah orang mengakui mendapat inspirasi dan spirit hidup dari para superhero. Kisah kepahlawanan dalam serial-serial superhero itu sederhana. Secara umum, ada dua karakter yang kontras: yang baik dan yang jahat. Yang baik itu rupawan, dan yang jahat biasanya tampil sebagai sosok yang menakutkan. Fans superhero belajar untuk saling kompak dan saling tolong menolong, hormat kepada orang tua, dan peduli pada lingkungan. Mereka mendapatkan nilai-nilai ini melalui film-film, animasi atau komik. Pendek kata, superhero menularkan ajakan untuk bersikap sportif dan ksatria. Sejak para superhero ini mendarat di Indonesia, mereka telah telah menjadi bagian dari proses pembentukan identitas anak muda Indonesia.

Para peserta pameran ini umumnya lahir pada tahun 80-an. Era dimana para superhero asing telah lebih lama mendarat dan berlaga di tanah air bersama para superhero nasional seperti Gundala atau Godam. Tentu saja selain superhero itu, ada superhero yang telah lama dikenal oleh masyarakat dan mengakar dalam kebudayaan Jawa, yaitu kisah para ksatria dalam pewayangan. Hibriditas zaman ini tentu sebuah kesadaran jaman yang khas dan berbeda dengan spirit generasi muda ‘45 yang memanggul senjata secara langsung. Seperti yang ditunjukkan dalam berbagai film dokumenter tentang kisah-kisah perjuangan. Pada masa itu, berbagai angkatan terbentuk. Salah satunyanya adalah angkatan anak muda dalam berbagai bentuk organisasi yang memanggul senjata dan maju kedalam berbagai peristiwa baku-tembak. Ini bukan simulasi baku-tembak di video-game. Namun serius terjadi dimasa silam.

Dalam pameran 17 + ini, kaum muda peserta pameran ini mencoba memaknai arti perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Melalui berbagai pengalaman pribadi, mereka mengekspresikan imajinasi mereka tentang pahlawan dan kepahlawanan. Sumber inspirasi karya mereka pun tidak hanya berasal dari komik, animasi dan film asing, tapi mereka juga meminjam

khazanah tradisi dan folklor. Pameran ini memiliki spirit eksperimentasi. Kita bisa melihatnya ini, pertama, dalam segi pencarian ide, kedua, dalam eksplorasi bahan, dan ketiga adalah tantangan tersendiri pada teknik membuatnya.

Kelompok Lampu Kuning ini adalah kelompok yang memiliki latar belakang minat material yang berbeda-beda, dari kayu, keramik, logam, kulit dan tekstil. Alumnus angkatan 2001-2002 Jurusan Kriya Seni, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta ini telah beberapa kali menggelar pamerannya secara kolektif. Saya sengaja membicarakan latar angkatan ini untuk mengajak audiens memahami posisi sosial mereka dalam kontras spirit zaman diatas. Betapapun dunia seni rupa dalam sisi lain adalah sebuah dunia karier kesenimanan, namun bentuk-bentuk ekpresi yang dihasilkan tidak lepas dari sikap individu dan kolektif dari spirit jaman yang melatarinya. Cara mereka memandang, mengalami dan memahami pahlawan dan kepahlawanan tentu berbeda dengan generasi sebelumnya. Lewat pameran ini mereka akan bertutur mengenai makna dan arti kepahlawanan melalui karya-karya tiga dimensional mereka.

Seperhero memang anak kandung dari rahim kebudayaan populer. Ia diciptakan untuk mengisi harapan, mimpi dan keinginan orang untuk melihat dunia dengan cara yang lebih simpel dan menghibur. Dan tanpa perlu sibuk untuk memahami jalan cerita yang berliku dan rumit. Kita diajak untuk terkesan pada efek spesial yang dirancang serius agar superhero memiliki kekuatan ekspresi yang kuat.

Tanpa imajinasi kita tentu karya mereka ini tak berarti apa-apa. Melalui imajinasi kitalah para figur kreasi peserta pameran ini dapat hidup dan bercerita. Bila saja kita menonton film, animasi atau mambaca komik selalu ada berbagai suspensi yang tak terduga. Suspensi ini membangkitkan keingintahuan kita pada cerita atau adegan berikutnya. Suspensi-suspensi inilah yang kita idam-idamkan dan kita tunggu-tunggu untuk perkembangan karya mereka saat ini dan dimasa mendatang.

Mari kita simak.

Yogyakarta, 15 Agustus 2009

Sudjud Dartanto

solo exhibition SYAHRIZAL PAHLEVI- SENI RUPA ARSIP, IMRSM 2003-2005

poster s. pahlevi     

“Arsip, siapapun diantara kita pasti memiliki urusan dengannya. Mungkin arsip yang berhubungan dengan pekerjaan atau profesi masing-masing. Arsip yang berhubungan dengan hobbi, berhubungan dengan ikatan keluarga, dengan ikatan pertemanan, dengan organisasi/kelompok, dengan perusahaan hingga arsip yang berhubungan dengan urusan perpanjangan KTP.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan arsip adalah dokumen tertulis yang mempunyai nilai historis, disimpan dan dipelihara di tempat khusus untuk referensi. Tiga kata penting dalam pengertian tersebut: dokumen, historis dan referensi rasanya cukup menjelaskan mengapa dan untuk apa kita semua melakukan pengarsipan…..dst

 Apakah Seni Rupa Arsip?

Istilah ini saya pakai untuk mewadahi kecenderungan praktek kerja artistik saya beberapa tahun belakangan ini yang sering berurusan dengan ihwal pengarsipan. Rasanya telah lebih dari 5 tahun saya tertarik membuat dan mengumpulkan dokumen-dokumen dari suatu objek, peristiwa dan situasi tertentu yang menarik sebagai bahan referensi untuk kemudian saya olah kembali menjadi bentuk dokumen baru yaitu “dokumen seni rupa”. Salah satu wujud dari penerapan praktek kerja artistik semacam itu adalah apa yang menjadi materi pameran kali ini. 

Dengan demikian Seni Rupa Arsip yang saya maksudkan disini adalah karya seni rupa yang materinya bahan-bahan arsip, atau pengertian ini silahkan dibaca terbalik sebagai arsip yang ditampilkan dalam bentuk seni rupa…..dst

 

Tentang karya:

Karya utama pameran ini adalah panel-panel lukisan berjumlah 21 buah yang saya kerjakan sejak tahun 2006 sampai menjelang pameran 2009 ini.

Awalnya saya membuat karya ini sebagai kegiatan mengingat kepingan-kepingan proses kreatif diri saya sendiri yang tidak lepas dari interaksi dengan individu dan komunitas. Salah satu yang cukup berkesan adalah masa rentang tahun 2003-2005 saat menjadi anggota/pengurus Rumah Seni Muara-sebuah art space yang pernah ada dan menempati sebuah rumah tua di bilangan Sewon, Bantul, DIY…..dst

 

Kegiatan menggali memori sambil mengasah teknik melukis potret yang sebenarnya cukup saya sukai selama ini ternyata menjadi keasikan tersendiri. Dimulai dari satu-dua potret sebagai coba-coba karena saya agak kurang yakin akan kembalinya kemampuan melukis saya pada waktu itu ternyata berlanjut ke potret-potret selanjutnya hingga mencapai 21 buah.

Ke 21 panel lukisan ini adalah “arsip profil” teman-teman/saudara saya eks anggota Rumah Seni Muara-yang tetap tercatat sebagai anggota sampai organisasi ini bubar atau membubarkan diri atau secara resmi tidak membuat kegiatan lagi sejak pertengahan 2005…..dst”

 (kutipan dari Artist statement pameran ini) 

SOLO EXHIBITION – BAYU WIDODO –

Memories on Print

Pameran ini berangkat dari keinginan mempresentasikan hasil residensi Bayu di Australia. Kurasi ini mengandaikan bahwa perupa hadir dalam satu kelompok sosial dan membentuk kecenderungan berkeseniannya. Residensi, satu sisi, merupakan pertemuan berbagai kecenderungan berkesenian yang muncul di lokasi berbeda untuk berjumpa. Memandang posisi Bayu dalam kelompok sosial spesifiknya di Jogja sebagai latar pembentukan diri, maka, proses residensinya dan hubungan sesudahnya, bisa dianggap persahabatan cara pandang. Kencenderungan seperti ini, bagi saya, bukanlah kategori komunitas yang tumbuh dalam satu alasan politis, namun, kultural.  Dengan dasar itulah kurasi ini berpijak.

Memories on Print, tema ini diambil dari dialog dengan Bayu Widodo terkait dengan pameran tunggalnya di Roommate. Sekilas, tema ini ingin mencakup beberapa hal, yaitu substansi gagasannya mengenai efek urbanisasi bagi orang-orang. Pengamatan itu dilakukan melalui konsumsi media massa, dan menempatkan media sebagai distributor ingatan-ingatan temporer persoalan kota. Namun, ingatan dalam hal ini tidak dikaitkan dengan pewarisan masa lalu yang umum dan kolektif. Melainkan, ingatan individual perupa mengenai persoalan urbanisasi. Mengamati merupakan bagian dari mengonsumsi ingatan. Jenis ingatan di sini bila boleh dinamai, yaitu ingatan urban. Lokasi ingatan itu di perkotaan, ruang di mana kaum urban ialah warga suatu tempat. Selain itu, print dalam hal ini merupakan medium berbagai aktualisasi ingatan perupa itu dimaterialkan, serta menimbang status dari budaya cetak sebagai bagian dari kehidupan urban itu sendiri.

Bayu melakukan residensi di Australia selama enam minggu. Program ini dia dapatkan secara mandiri. Hasil dari “mengalami” hidup di sana ia presentasikan dalam bentuk pameran di studio Megalo, 24 April 2009 dengan tajuk Me vs Robot. Penganalogian ini muncul ketika Bayu merasakan bagaimana manusia itu hidup dalam sistematika mesin. Bayu sendiri tertarik untuk mengkomunikasikan gagasan urbanisasi yang sudah menjadi praktik, dan efeknya bagi kemanusiaan orang. Bila dulu gagasan urbanisasi untuk menamai praktik orang desa mendatangi kota, sebab, kota menjanjikan kesejahteraan. Juga memperkuat legitimasi kota sebagai keramaian, dan memunculkan kategori identitas dan batasnya, misalnya “udik”, dan “kampungan”. Urbanisasi menjadi ruang dimana identitas manusia itu dibentuk, juga kadang menuntut orang untuk menjalankan peran yang berbeda dari tempat asalnya.

Home Shit Home
Pada karya Bayu, kita bisa melihat hubungan manusia dan tempat secara berbeda. Manusia yang dilihat dari kategori sosial ialah urban. Mereka inilah yang membutuhkan tempat, namun, tidak memilikinya. Hidup di dalam janji-janji kesejahteraan perkotaan, namun, tempat yang memproduksi janji itu ternyata tidak bisa tempati. Kategori yang menjadi perhatian Bayu ialah mereka yang tidak punya tempat, berpindah-pindah, atau mereka yang belum mengalami “apa itu rumah”, namun, mengharapkannya. Penanda rumah justeru menjadi makna “ruang kenyamanan” yang selalu tertunda, dan terpindah-pindah, dan hidup dalam harapan.

Gagasan urbanisasi dalam karya Bayu tidak bisa dilepaskan dari status dirinya, sebab dia sendiri ialah salah satu pelakunya. Namun, cara orang untuk meng-urban bermacam-macam. Bayu lebih masuk ke jalur sub-kultur untuk mengalami urbanisasi itu. Dan dikelompok ini berkembang cara mengurban yang spesifik, dengan mengaktualisasikan diri dengan tattoo dan membentuk survivalitasnya. Survive, merupakan kata yang selalu dia tekankan untuk memaknai kelompok sosial spesifik yang menjadi home-nya.

Sutrisno Prianggodo

Artist Statement
Garis, cerita

Garis bisa menjadi cara bertutur. Untuk menceritakan situasi bahagia, bosan, marah maupun lapar.

Karya saya sangat banyak bereksperimen dengan pensil, cat akrilik, pensil warna,pena, pastel, arang, stensil, cukil kayu, sablon.

Dalam menciptakan karya, saya senang mengeksplorasi teknik dan gagasan, dengan berbagai material seperti kanvas, kertas, kayu, dan apa saja yang membantu mempertegas
gagasan. Seni bagi saya adalah sebuah cara untuk mengekspresikan gagasan yang saya peroleh dari apa yang saya lihat, baca, dan dengar yang terjadi di sekitar saya.

Berawal dari mengamati, menganalisa dan memahami fenomena hidup dalam wujud interaksi dan toleransi dengan masyarakat, tidak jarang menimbulkan berbagai pertentangan, bahkan penolakan pada diri saya.

Fenomena hidup yang menjadi konsep karya saya fokus mengenai ide urbanisasi dan efeknya pada kemanusiaan. Di bawah premis “think global, act local”, saya ingin memperlihatkan efek tersebut berupa kebutuhan tempat tinggal.

Sejauh mungkin karya saya ingin merefleksikan efek gaya hidup di dalam lingkungan urban.

Bayu Widodo

GROUP EXHIBITION – MEETING PEOPLE IS (NOT) EASY

ARTIST:

JUDI BAGONG RISWANTO, TOMMY TANGGARA, KADAFI GANDI KUSUMA

NURUL (ACIL) HAYAT, YOYOK SAHAJA, EKI BP

self pleasure (solo exhibition – indra wahyu)- currated by sutrisno (22-29 Mei 2009)

Hyperactive, 145 cm X 180 cm, Acrylic on canvas, 2009

SELF PLEASURE

Pameran tunggal ini mengambil tema “Self Pleasure”. Tema ini muncul dari pembicaraan bersama Indra Wahyu. Ia sendiri tidak mengungkapkan secara spesifik mengenai subyek yangmenghuni kanvasnya. Ia tertarik menggarap isu sosial. “Yang sosial” itu dia lukiskan melalui rupafigur-figur secara mandiri. Sebagaimana kita tahu, tema sosial kerap digarap secara kolosal dan dramatik. Penggambaran itu untuk memperlihatkan betapa penting dan beratnya persoalan masyarakat. Namun, Indra menampilkan kesosialan secara ringan, ironik, dan individual. Jenis sosial apa yang bisa kita intip melalui karya individual. Lalu “the social” macam apa yang ingin dihadirkan melalui kerja studionya. Penggambaran masyarakat kerap digambarkan secara kolosal. Kualitasnya dihadirkan melalui massa, dan tindakannya dalam nuansa gerakan. Sementara itu, figur-figur yang dibuat Indra dapat diletakkan dalam proyeksinya untuk mengintip sosialitas jaman sekarang. Sosialitas yang dipenuhi budaya media, industri rayuan, mimpi, konsumsi dan janji-janji lainnya yang dihadapi orang jaman ini. Sebuah masyarakat berusaha diintip melalui individu yang mengalami kesosialan terkait menguatnya budaya tersebut. Melalui permulaan demikianlah, tema self/diri

ini menjadi mungkin untuk diletakkan dalam pleasure nya orang jaman sekarang. Indra Wahyu. Saya mengenalnya di Jogja, di ISI Yogyakarta. Setahu saya dia anak Lampung. “Anak Lampung” dalam arti dilahirkan dan dibesarkan di Lampung. Namun, keluarganya sendiri berasal dari Jogja. Sedari kecil, ia menyenangi seni (menggambar). Selepas sekolah menengah, kesenangannya pada seni ini lah yang mendorongnya untuk selalu memenuhinya. Berkesenian menjadi obsesi. Cerita bahwa ada perguruan tinggi seni di Jogja membawanya ke ISI Yogyakarta. Keinginannya menuntut untuk dipenuhi. Diri dan Relasi

—————-

Kenyataan apa yang dihadapi oleh orang yang berasal dari tempat lain ke tempat baru. Dalam kategori sosiologis kita disediakan kata “urban”. Proses tinggalnya Indra di Jogja bias diartikan meng-urban. Saya tidak hendak mengatakan bahwa tempat memanggil Indra untuk tinggal. Sehingga Jogja menjadi tempat tinggal. Namun, melaluinya, kita merasakan bahwa makna sebuah tempat itu memproduksi obsesi bagi sejumlah orang. Datang ke “tanah obsesi” berarti menjadi bagian dari komunitas seni, yang alasan sosialnya untuk tinggal ialah mewujudkan obsesi. Didalamnya, gairah berkarya digunakannya untuk mendampingi hidup. Sesuatu bernama Jogja menjadi obsesi bagi orang luar Jogja yang ingin belajar seni. Ke Jogja berarti bertemu dengan budaya yang berbeda dengan Lampung. Biasanya, momen pertemuan awal dengan perbedaan itu akan berkesan bagi individu untuk dikenang. Bagi Indra, angkringan, cara bersusila, cara orang berkomunikasi, menjadi sekian perbedaan yang dirasakannya. Pengalaman ngankring menjadi fenomen individu untuk memediasi perjumpaan sosial. Jenis fenomen sosial macam itulah yang dirasakan oleh Indra pada masa awal di Jogja. Namun, tempat dan bentuk sosialnya yang spesifik itu tidak diartikulasikan melalui sejumlah karyanya. Ia justeru memberikan perhatian pada jenis sosial dalam jangkauan media, juga orangorang dalam berbagai bentuk sosialnya berupa: rayuan, mimpi-mimpi, dan konsumsi. Jenis social seperti inilah yang secara tanpa sadar ingin dituturkan di lukisan, dan gambar. Indra sendiri bisa diletakkan dalam kategori sosial: urban. Didalamnya dia menaruh perhatian pada fenomen sosial berupa: mimpi, popular, harapan, dan sejumlah kompleksitas “pleasure”nya. Kehadiran sosial itu dilukiskan melalui figur-figur di sejumlah karyanya. Indra mengisi setiap bidang kanvasnya dengan satu figur. Setiap figur diperlakukan tengah melakukan aksi tertentu. Aksi yang ditampilkan pun berlainan. Ada laki-laki terlelap dikursi dan tidak melepaskan remote tv. Ada perempuan sedang bermain dolanan. Ada anak yang tengah duduk dibantal dan membuat boneka superman. Juga ada dua anak laki-laki sedang ber-oposisi. Kehadiran figur memberi kemungkinan pada kehadiran diri. Sebuah kehadiran diri yang ditentukan oleh orang lain. Status orang lain ini bisa diganti dengan remote dan tv, publikasi, simbol, dan pakaian. Sebagaimana yang dituliskannya dalam artist statement, kehadiran orang lain bisa menentukan diri untuk berposisi. Kehadiran orang lain di dalam media juga menentukan konsep diri. Ke-diri-an di dalam Indra, siapa yang tahu! Namun, melalui rupa-rupa figur yang dibuat Indra, siapa ‘orang lain’ itu? Menghadirkan Figur, Menghilangkan (Diri)

—————————

Di karyanya kita tidak menemukan potret diri seniman untuk menggambarkan dirinya. Namun, kita justeru diberi sejumlah figur-figur lain. Sejumlah figur yang berasal di luar sana. Misalnya, lukisan sosok Ulfa merupakan figur yang sisi personalnya disosialkan oleh media. Kediri- an Ulfa ialah sebuah cerita yang menjadi konsumsi sosial. Cerita modern ialah cerita yang diproduksi oleh media dan dikonsumsi penontonnya. “Pleasure” ada di saat kita mengonsumsinya. Praktik bersosial biasa hadir di suatu kondisi, ketika kenikmatan menjadi “diri” tidak bisa ditentukan secara sendirian. Ketika ke-aku-an saya ditentukan oleh kamu (aku yang lain), atau juga oleh objek lain. Namun, Indra melalui lukisan-lukisannya, kita bisa mengatakan bahwa diri perupanya sendiri menjadi objek yang jauh, sementara orang lain dekat. Model resepsi social yang dilakukan oleh Indra ini juga bisa dianggap bersosial. Menariknya, kita disuguhi ketidakhadiran objek/potret diri seniman sebagai self. Dengan kata lain, enjoynya Indra itu muncul justeru ketika melukis orang lain. Ketika kita juga ditentukan oleh hal-hal yang lain. Maka, dirinya sendiri tidak harus nampak, orang lain lah yang penting, yang harus dilukis. Nampaknya, pada level itulah figur-figur tersebut memiliki alas an kehadirannya. Apakah dengan demikian, Indra berarti menyerahkan diri sepenuhnya untuk

ditentukan oleh orang lain? Belum bisa dipastikan. Melalui karyanya, kita justeru disuguhi kemauan untuk menerima dan menghadirkan siapa dan apa yang menjadi objek bagi kita sendiri. Secara tanpa sadar, pembayangan itu hadir di lukisan dan sketsanya. Termasuk penggunaan kombinasi teknik cat air; realis dan impress diinginkan untuk mengeksplorasi ketegangan sosial yang dialami individu. Fenomen tersebut dihadirkan di karya, melalui figur, dan tindakannya dalam ketegangan yang cair. Secara umum, kita melihat kehadiran diri berupa figur, dan penampakan sosialnya. Rupa figur, dan benda yang dibuat Indra dihadirkan dalam kondisi yang tidak solid. Kata “solid” ini sendiri saya pinjam dari konsepnya. Baginya, tidak ada yang tetap dan baku. Sesuatu bisa berubah, semuanya tidak solid. Sosialitas yang dialami orang jaman sekarang tidaklah solid, namun, mencair dan mengalir. Justeru karena tidak solid inilah maka ia perlu diungkapkan. Ketidaksolidan itu dibuat dengan menggabungkan teknik realis dan cat air. Ia tidak sepenuhnya suka realis, bahkan ada kecenderungan cat air menjadi teknik yang selama ini ia tahan-tahan. Ia berada di antara keduanya. Menggabungkan dua teknik menuntut kecakapan perupa untuk mengolah dan mengontrolnya. Mempertemukan dua teknik ini, membuka bentuk permainan substitusi teknik. Pada karyanya, terdapat perubahan konfigurasi kedua teknik itu. Efek, Metafor, dan Pleasure Nikmatnya menjadi seorang Indra hanya ia sendiri yang merasakannya. Namun, objek yang bisa mendatangkan “kenikmatan” bisa jadi disediakan oleh budaya. Sehingga “pleasure” orang untuk bersosial di jaman sekarang seolah tidak bisa mengelak dari bentuk “pleasure” media. Juga tidak lepas begitu saja dari bentuk persuasi jaman sekarang berupa; rayuan, dan mimpi. Justeru melalui komunikasi semacam itu, bersosialnya orang mengalir melalui harapan, mimpi, dan objek kenikmatan lainnya.

———————-

Melalui cara pembacaan semacam itulah Indra membuat karyanya. Indra melakukannya dengan menghadirkan bidang, membuat objek dari efek, membuat metafor dari kemungkinan efek, menggunakan dan merawat garis. Di satu sisi membuat kesan spontanitas. Di sisi lain ada upaya untuk merangkumnya dalam bentuk-bentuk, juga memberi ruang kemungkinan bagi hadirnya benda-benda residual. Misalnya, untuk saat ini, sejauh kita percaya kekuatan pakaian untuk meng-urban-kan manusia. Pakaian bisa mengekspresikan kedirian. Sosok manusia dalam kategori pakaian, berarti manusia yang diletakkan dalam sistem pakaian. Pakaian seolah mampu menunjukkan perbedaan-perbedaan manusia. Sejauh pakaian menguatkan statusnya, maka menutupi tubuh justeru memberi pengakuan keberadaan tubuh. Semua variasi figur yang disusun dan diolah oleh Indra ini tidak untuk menunjukkan fase usia. Figur anak-anak menjadi metafor bahwa terkadang ada hubungan sosial yang bersifat kekanak-kanakan. Misalnya, melalui rupa anak perempuan, Litle Girl Makes a Big Dream. Menjadi Superman ialah Big Dream. Mimpinya siapa? Mimpinya anak perempuan. Siapakah anak perempuan itu? Mungkin saja, figur anak perempuan ialah metafor bagi kita yang sedang kekanak-kanakan. Membuat superman ialah harapan untuk mendapatkan kekuatan. Superman dipanggil (attachment) untuk menjadi metafor kedirian yang meletakkan mimpi sebagai harapan. Kita tidak selalui dikuasai dan bisa hidup dengan kedewasaan. Melalui cara pengalihan penanda, kanvasnya masih menyisakan permainan metaforik bagi kita. Menariknya, penanda-penanda sosial yang dijumpai Indra di saat-saat awal di Jogja tidak hadir dalam karyanya, atau seiring waktu berjalan “romantika” awal itu dieliminasi. Sebagai gantinya, penanda visual sebagai tuturan sosialnya itu dilarutkan dalam pleasurenya pengalaman orang bersama media, orang bersama orang, namun, dalam eksekusi visual yang

dengan jelas tidak menghadirkan media, dan bahkan perupanya sendiri. Kenikmatan menghadirkan orang lain dan kisah sosialnya seolah bisa memuaskan, namun, menuntut sebuah biaya tanda berupa penghilangan/penundaan kehadiran potret perupanya sendiri secara terus menerus.

Kurator Pameran

Sutrisno “Prianggodo”

Karya Karya